Mengenal Lebih Dekat Tukang Kebun SMA Negeri Modal Bangsa Arun


Pagi hari, sepeda tua, dan sepasang kaki yang tidak mengenal lelah mengayuh. Jarak yang ditempuh, pulang pergi lebih kurang 2 km. Setiap hari, dari Senin sampai Sabtu, ke SMA Negeri Modal Bangsa Arun, tempatnya bekerja saat ini. Di lembar absen sekolah, nyaris tidak ada tanda alpa ataupun terlambat, kecuali saat tertentu seperti hujan atau halangan lainnya.

Berdasarkan wawancara terhadap sepuluh warga sekolah, sayangnya, hanya tiga orang yang mengetahui persis namanya. Barangkali tipikalnya yang pendiam, seakan membangun rasa segan bagi orang lain untuk mencoba berkenalan. Meski pendiam, ia tidak pernah lupa memberikan senyum ketika bertemu siapapun. Di balik sisi pendiamnya, ia percaya sikap seperti itu bisa memberikan ketenangan pada pikirannya sehingga menjadi lebih fokus dan lebih totalitas dalam melakukan pekerjaannya.

Nama beliau adalah Mulyadi, seorang laki-laki kelahiran Solo,18 Februari 1947, dua tahun setelah Indonesia merdeka. Gerak tubuhnya yang energik sekilas membuatnya terlihat masih berada di usia yang muda. Tetapi tidak bisa dipungkiri ketika memperhatikan dari dekat, kerutan di wajah dan rambut yang memutih adalah penanda bahwa waktu telah merangkum asam garam kehidupan selama 74 tahun usianya.

Kedatangannya ke Aceh bersama keluarganya adalah bagian dari program transmigrasi pemerintah pusat yang membutuhkan tenaga kerja untuk membangun pabrik gula, di daerah Cot Girek pada tahun 1966. Saat itu usianya telah menginjak 19 tahun. Sepeda onthel yang saat ini menemaninya adalah hasil dari gaji pertama sekaligus sebagai kado kelahiran putri pertamanya. Kalau dipikir-pikir, usia sepeda itu ternyata sekitar tiga kali lipat dari usia anak sekolah SMA.

Sebelumnya juga, di tahun 1982-2003 pernah bekerja sebagai penjaga gudang penyimpanan barang di komplek pabrik P.T. Arun. Setelah tahun 2003, beliau bekerja sebagai tukang kebun di beberapa tempat. Barulah di tahun 2020, setahun setelah dicanangkannya program Bereh (Bersih, Rapi, dan Indah) oleh Pemerintah Aceh pada 2019, beliau mulai bekerja di SMA Negeri Modal Bangsa Arun.

Ada pengalaman getir yang sempat diungkapkan. Pernah suatu ketika ada tawaran sebelum bekerja SMAN Modal Bangsa Arun. Sayangnya, peluang itu terlanjur ‘diserobot’ orang lain. Tetapi ia tidak pernah mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Beliau berpegang pada salah satu filosofi Jawa, yaitu nrimo ing pandum yang memiliki arti menerima segala pemberian/keadaan. Ia percaya bahwa hidup ini tidak selalu tentang apa yang kita inginkan, tidak selalu tentang apa yang kita sukai. Terkadang hal-hal yang tidak kita sukai dan tidak kita inginkan itu datang dan harus kita terima keadaan itu dengan lapang dada dalam menjalani hari sebaik mungkin.

Pak Mul, begitu beliau disapa oleh orang yang telah mengenalnya, oleh kebanyakan warga sekolah dikenal sebagai sosok yang disiplin. Biasanya beliau tiba di sekolah berbarengan dengan jam masuk anak-anak sekolah. Jam kerjanya, sebagaimana disampaikan pihak sekolah, adalah pukul 08.00-12.00. Kemudian istirahat siang dan dilanjutkan lagi pada pukul 14.00-16.00. Ketika sedang bekerja ataupun sedang beristirahat, beliau jarang sekali terlihat berbincang-bincang dan menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu.

Pada jam istirahat anak-anak sekolah, kerap didapati beliau sedang berada di sekitaran taman, membersihkan air kolam menggunakan penyaring agar dapat mengambil dedaunan yang jatuh ke dalam air. Di lain waktu sedang menyapu taman agar tetap terlihat bersih dan bebas dari sampah-sampah plastik.

Menanam bunga dan merawatnya merupakan tugas yang diamanatkan sekolah. Dalam hal merawat bunga, daun-daun yang sudah kering ia bersihkan, kemudian tanah digemburkan agar tidak padat, dan ilalang-ilalang dicabut agar taman terlihat jauh lebih rapi. Terkadang ketika sudah merasa sangat lelah, ia beristirahat untuk minum dua sampai tiga teguk air, itupun tidak menghabiskan banyak waktu, hanya sekitar 3 menit dan setelah itu langsung melanjutkan tugasnya. Ketika ditanya mengapa tidak istirahat lebih lama, beliau menjawab, “Kalau istirahat ya boleh-boleh aja berapa lamanya terserah kita, tapi saya sudah terbiasa aja gak menunda-nunda pekerjaan biar selesai terus semuanya.”

Rasanya jarang sekali menjumpai pekerja yang seusia beliau dengan semangat kerja seperti itu. Tanpa sakit pinggul, sakit lutut, dan penyakit-penyakit bawaan usia lainnya. “Saya malahan kalau gak kerja rasanya itu sebadan ini sakit semua,” ucap beliau dengan sedikit tawa di wajahnya. “Dulu, ketika masih muda, saya senang berolahraga. Bermain sepak bola, badminton, dan juga dulu saya gak pernah merokok,” lanjut beliau ketika mengenang masa mudanya. Dengan sering berolahraga dan menghindari rokok saat muda, sekarang dirinya terbukti jauh lebih sehat dibandingkan teman-teman seusianya. Sebagian orang tidak percaya, atau mungkin abai, bahwa apa yang dilakukan di masa muda akan berdampak di hari tua, padahal banyak orang tua yang sudah membuktikannya.

Di sela-sela istirahatnya, Pak Mul seringkali membagi makanan yang dimiliki dengan kucing-kucing liar. Maka tak heran kalau melalui sentuhan tangannya kucing-kucing itu menjadi jinak. Ada 2 ekor yang telah diberi nama, yaitu “dube” dan satunya lagi “cewek”. Kedua kucing ini terlihat sehat dan badannya berisi. Ketika ditanyakan, jawabannya tidak ada alasan khusus mengapa hal ini dilakukan, selain sekadar ingin berbagi. Jangan-jangan benar apa yang pernah diucapkan orang, bahwa jika kucing di suatu lingkungan itu sehat-sehat, biasanya orang yang tinggal di dalamnya adalah orang-orang baik.

Sebagai tukang kebun, Pak Mul adalah pekerja yang sangat terampil. Beliau memiliki beberapa alat yang dibuat sendiri untuk memudahkan pekerjaannya. Salah satu alat kerja yang dibuat adalah pemotong rumput yang bentuknya seperti sekop terbuat dari pipa stainless, berbentuk seperti persegi tetapi kedua pinggirannya dibuat tajam, dan dikaitkan dengan sepotong kayu yang ukurannya tidak lebih dari 15 cm. Memang ada beberapa alat yang memiliki fungsi sama dengan alat yang dijual pada umumnya. Seperti cangkul yang dimodifikasi untuk mencangkul tanah. Beliau membuat alat ini dikarenakan beliau tidak terlalu bisa menggunakan cangkul yang biasa karena akan lebih mudah lelah.

Alat-alat ini dibuat bukanlah ketika mulai bekerja di sekolah, melainkan sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu, sejak 2003. “Saya membuatnya dengan barang-barang bekas yang ada disekitar saya, jadi tidak memerlukan biaya yang besar,” ucapnya ketika ditanya kenapa tidak meminta anggaran dari sekolah untuk membeli alat-alat kerja yang baru. Beliau tidak hanya bekerja keras tetapi beliau juga bekerja cerdas. Dengan menciptakan alat-alat itu, Pak Mul bisa melakukan pekerjaannya sambilan duduk sehingga tidak mudah lelah dan dapat menyelesaikan tugas selanjutnya.

Pak Mul adalah tamatan dari Sekolah Kerajinan Negeri yang pada saat itu setara dengan pendidikan SD. Pada masa itu di sekolah diajarkan cara membuat kerajinan anyaman seperti tudung saji, bakul, tampah, hingga kerajinan kayu seperti mainan anak-anak. Selain pandai membuat kerajinan sejak kecil ia juga suka membaca komik dan melukis. Bakat melukisnya itupun diwariskan kepada anak keempatnya.

Berbicara tentang masa kecil, salah satu yang sangat berkesan bagi beliau adalah saat diajak kekeknya menonton pertunjukan wayang di taman Sriwedari, sebuah ruang budaya yang terletak di kota Surakarta, atau dalam penyebutan yang lebih kultural adalah Solo. Kalau membaca sejarah, cerita pembangunan taman tersebut adalah perpaduan antara fakta dan mitos. Terserah bagaimana sebuah cerita dipercaya, tapi keindahannya, fungsinya yang bertahan hingga kini, dan latar ceritanya menjadikan taman itu sebagai tempat yang estetik, unik, dan menarik. Makanya dikenal ungkapan, barangsiapa yang bertandang ke Surakarta tapi belum melihat Sriwedari, itu sama artinya belum mengenal ‘jiwa’ Surakarta.

Menonton pertunjukan wayang dan mendengar cerita dan sejarah-sejarah adalah salah satu hal yang sangat dinantikan di masa-masa itu, kenangnya. Salah satu kisah yang paling membekas adalah cerita Mahabarata, di mana ia amat sangat menyukai tokoh Yudistira atau Dharmawangsa sebagai panutan dan teladannya dalam kehidupan sehari-hari. Sosok Yudistira yang adil, jujur, sabar, dan taat pada agama adalah cerminan perilaku yang patut untuk dicontoh. Dari sosok itu ia sangat banyak belajar bagaimana cara menjalani hidup dengan penuh rasa sabar.

Saat ini Pak Mul memiliki seorang istri bernama Khalida, perempuan kelahiran Madiun, 23 April 1947 yang dinikahinya pada tahun 1965 .Sudah 56 tahun beliau menjalani hidupnya berdampingan dengan seorang istri yang amat sangat perhatian itu. Saat ditanya apa yang menjadi resep yang awet, beliau mengungkapkan bahwa semua permasalahan yang datang pasti berasal dari pemikiran kita, begitu juga dengan penyelesaiannya. Jika hidup ingin tentram, rumah tangga ingin nyaman, dan tidak banyak percekcokan satu sama lain, kuncinya hanya di pikiran kita. “Bersihkan pikiran, jauhkan masalah, dan jalani saja dengan ikhlas,” ucapnya.

Dari pernikahannya itu ia memiliki 5 orang anak, ditambah dengan 13 cucu, dan 4 cicit. Kelima anaknya telah bekerja, anak pertamanya kelahiran tahun 67 yang sekarang berada di kota Lhokseumawe, dan sudah berkeluarga. Begitu juga anak keduanya, kelahiran tahun 70 dan tinggal di daerah Tangerang Banten. Anak ketiganya adalah seorang lelaki kelahiran tahun 72 dan berada di kota Medan. Anak keempatnya yang sekarang berada di kota Medan juga. Terakhir, adalah anak kelimanya seseorang yang lahir di tahun 82 dan sekarang berada di pulau Penang di negara tetangga Malaysia. Manusiawi tentunya jika ada keinginan berkumpul dan menikmati waktu bersama anak dan cucu-cucunya. Tetapi apa boleh buat,mereka semua dipisahkan oleh jarak dan kesibukan masing-masing.

Sekarang ia tinggal hanya berdua saja bersama istrinya. Baginya walaupun usianya telah senja, ia lebih memilih menafkahi dirinya sendiri. Ia tidak mau bergantung dan membebani kepada anak-anaknya. Bekerja sebagai tukang kebun adalah caranya mengisi kesehariannya. “Lagian kalau tidak bekerja, saya dan istri mau makan apa?” ujarnya ketika ditanya apakah tidak sebaiknya beristirahat saja karena usia yang sudah lanjut.

Di zaman yang serba cepat sekarang ini, orang-orang tidak lagi saling memperhatikan satu dengan lainnya. Padahal setiap manusia mempunyai sisi menarik untuk didengar kisahnya. Maka ada sebuah pendapat, bahwa jarak terdekat di antara dua orang manusia adalah sebuah cerita. Sedangkan jarak terjauh yang bisa ditempuh dalam waktu singkat adalah dengan menanyakan nama seseorang.

Sebagai penutup, penulis mengutip perkataan Mahatma Gandhi, bahwa semesta telah menyediakan kebutuhan yang cukup untuk manusia, kecuali untuk mereka yang rakus. Kisah Pak Mul adalah perjalanan hidup yang penuh rasa syukur. Segala kemudahan dan kesulitan, harus disikapi dengan tanpa membebani pikiran yang berlebih, sehingga hati menjadi tentram dan pikiran tetap tenang.


Tags: menulis felsi

About The Author

Aifa Meisi Putri Aulia

SMA Negeri Modal Bangsa Arun

Comments

Comment has been disabled.