LAWAN HOAKS DENGAN CRITICAL THINKING


Media sosial merupakan setitik penemuan kecil sederhana namun efeknya dapat mengubah masyarakat dunia. Seiring bertumbuhnya media informasi internet seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya, disrupsi informasi seperti tidak bisa dielakkan lagi. Setiap hari ratusan ribu bahkan jutaan berita baru masuk menghiasi layar smartphone maupun laptop kita. Hanya dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencarian, tagline berita yang tak terhitung banyaknya muncul.

Sejak membludaknya penggunaan media sosial, kita menjadi familiar dengan kata-kata baru. Salah satu kata yang sering berseliweran di telinga kita akhir-akhir ini adalah hoaks. Hoaks atau dalam Bahasa Inggris, hoax artinya informasi bohong yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Tentu saja dari penjabaran tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak semua berita yang kita temukan media sosial itu benar. Namun ada banyak sekali berita yang tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar.

Keberadaan hoaks ini dapat kita temukan dari lini terkecil kehidupan. Bahkan sampai di titik yang menggegerkan masyarakat luas. Ada berbagai jenis hoaks. Dilansir dari suara.com, hoaks terbagi atas satire atau parodi, konten yang menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, koneksi yang salah, konten yang salah, dan konten yang dimanipulasi.

Semenjak munculya berita ini pada 2018 lalu, Kominfo bahkan membuat portal informasi untuk menghentikan penyebarluasan hoaks dalam laman kominfo.go.id dan stophoax.id. Namun hingga tahun 2021, hoaks tak kunjung hilang dari eksistensi bahkan semakin marak keberadaannya. Ketika pemerintah memutuskan untuk memberikan vaksin COVID kepada masyarakat, berita tak benar diolah secara lihai oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Tersebar informasi-informasi entah dari mana bahwa telah ditanamkan chip di dalam vaksin tersebut. Padahal tidak ada bukti valid yang dapat membenarkan berita itu. Sebagian masyarakat dapat dikendalikan dengan berita-berita tidak benar yang dibuat oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab. Entah untuk apa tujuannya.

Menghadapi ribuan berita hoaks yang belum tahu kapan berakhirnya, kita tidak perlu merasa panik. Kita tetap selalu waspada dalam menyikapinya dengan menganalisis kebenaran dari berita tersebut sembari mencari informasi dari berbagai media yang sudah terbukti kevaliditasannya. Kemampuan untuk menganalisis semua berita yang kita dapat ini dapat disebut juga dengan berpikir kritis atau critical thinking.

Seperti yang sering kita temukan postingan-postingan di sosial media tentang apa itu critical thinking, membacanya sekilas, dan ada suatu keinginan untuk menanamkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini penting sekali mengingat bahwa critical thinking sangat perlu untuk dijadikan landasan berpikr yang kita. Bahkan critical thinking ini menjadi salah satu dari beberapa skill yang perlu kita punya di abad 21. Tentu kita akan bertanya apa sih sebenarnya critical thinking itu? Mengapa itu sangat perlu untuk kita? Apa juga hubungannya dengan hoaks?

Critical thinking jika diartikan adalah berpikir kritis. Tanpa kita sadari, kita selalu berpikir. Sejak bayi hingga sekarang. Sejak membuka mata sampai rasa kantuk menyapa. Lantas timbul pertanyaan, mengapa sih berpikir saja harus ada aturannya? Otak manusia itu kompleks, begitu pun pikiran yang ada di dalamnya. Nah disinilah kita akan menambahi kata kritis. Kritis dekat dengan kata kritik. Kita sering mendengar, melihat, dan menjumpai segala macam bentuk kritik. Kritik adalah sebuah ketidaksetujuan dalam sesuatu. Jika diaplikasikan dalam konsep berpikir, bisa dikatakan kritis adalah berusaha mencari kesalahan atau ketidaksetujuan dalam sesuatu. Dalam kata lain, berusaha memfilter segala informasi.

Menurut Gita Savitri Devi dalam video YouTubenya yang berjudul Gimana Caranya Berpikir Kritis? menyebutkan “untuk bisa berpikir kritis, kita harus punya curiosity atau rasa ingin tahu yang tinggi sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan tersebut supaya kita bisa enlighten, yang tadinya bingung menjadi mengerti, yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu”. Memang sudah hakikat manusia untuk punya rasa keingintahuan yang tinggi. Karena berawal dari keingintahuan inilah, muncul penemuan-penemuan yang membantu kehidupan kita hingga saat ini. Namun semakin ke sini, sangat banyak orang yang ingin memiliki rasa ingin tahu malah sering dicap negatif. “Padahal kalau kita berpikir lagi, orang yang banyak bertanya itu karena dia tidak tahu, karena dia tidak pintar, makanya dia ingin pintar dengan cara bertanya” lanjut Gita.

Karena sering dilabeli negatif soal terlalu sering bertanya ini, membuat orang-orang menjadi tidak lagi ingin bertanya. Ini memunculkan suatu fenomena sosial yang disebut inherited opinion. Gita Savitri mengungkapkan sebuah statement mengenai inherited opinion ini, artinya kita memercayai sesuatu hanya karena orang lain memberi tahu kita seperti itu. Tanpa ada niat untuk mencari tahu lebih lanjut. Padahal perlu untuk kita mempunyai orisinalitas dalam berpikir. Untuk menentukan susuatu sesuai kepercayaan kita. Dalam kata lain, mempunyai pendirian sendiri, tidak mengikuti pemikiran-pemikiran yang sudah tertanam lebih dahulu.

Tidak mengikuti bukan berarti pemikiran terdahulu itu salah. Kebanyakan pemikiran-pemikiran tersebut merupakan tradisi yang dianggap baik oleh masyarakat sekitar. Namun sangat perlu bagi kita untuk memiliki kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan mencari tahu dan mengambil kesimpulan sendiri. Kemerdekaan berpikir menciptakan kesigapan dalam menganalisis kevalidan suatu berita. Tidak menelannya mentah-mentah. Kebanyakan korban hoaks mempunyai inherited opinion, ketidakmampuan dalam mengambil kesimpulan akan suatu berita. Sehingga cenderung akan menelan apa saja informasi yang diterima. Karena menurut mereka, apa pun yang dibaca adalah kebenaran.

Tanpa kita sadari, critical thinking ini pun berdampak sangat besar pagi psikologi seseorang. Karena psikologi seperti sudah bergandengan erat dengan pikiran itu sendiri. Critical thinking sedikit demi sedikit dapat membentuk pikiran positif. Karena tidak sedikit hoaks yang dibuat untuk menggiring opini publik dalam konotasi negatif, critical thinking membantu untuk berusaha menganalisa kebenaran dari berita hoaks tersebut. Jadi daripada kita dijadikan seperti domba yang dapat diarahkan kesana kemari hanya dengan tersulut suatu berita yang belum tentu terjamin validitasnya, kita bisa menjadi orang yang punya kemandirian dalam berpikir. Bisa menjadi pribadi yang lebih positif baik dari jasmani maupun rohani.

Untuk menanamkan critical thinking ini tidak hanya bisa dilakukan dengan faktor internal, namun bisa juga didukung dari faktor eksternal, seperti pergaulan. Memenuhi lingkup pertemanan dengan orang-orang yang juga berpikiran kritis dapat sangat mempengaruhi pemikiran kita. Karena bagaimana pun, kita pasti akan terpengaruh dengan orang-orang di sekeliling kita. Contohnya adalah saling bertukar pikiran dan opini tentang berita terbaru sehingga memperluas wawasan. Kita dapat mengetahui sudut pandang orang lain tentang suatu permasalahan dan mencocokkannya dengan sudut pandang kita. Setelah itu kita dapat menarik suatu kesimpulan yang menurut kita paling benar. Hal lain dapat dilakukan dengan membaca buku-buku self improvement untuk memperkaya informasi. Karena seperti pepatah, buku adalah jendela dunia. Ini jauh lebih baik daripada sekedar membaca berita artis.

Untuk mengatasi segala fenomena negatif, sebaiknya kita membiasakan untuk menerapkan pada diri sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekat untuk senantiasa berpikir kritis. atau critical thinking. Selain itu, membudayakan literasi dalam kehidupan sehari-hari, dalam upaya menambah wawasan dan pengetahuan untuk membentuk karakter. Karakter yang kuat, bukan saja mampu menghadapi hoaks, namun akan lebih siap untuk menghadapi permasalahan seiring menjamurnya disrupsi informasi di platform media sosial.


Tags: menulis felsi

About The Author

Gizka Maulina Herman

SMA Negeri Modal Bangsa Arun

Comments

Comment has been disabled.