SINERGISITAS ANTARA SEKOLAH, ORANG TUA DAN MASYARAKAT, SEBUAH SOLUSI MENGHADAPI PROSES BELAJAR DI ERA PENDEMI


Peristiwa Pandemi yang melanda Indonesia, sangat berpengaruh terhadap dunia Pendidikan. Peristiwa ini tidak bisa ditangani sendiri oleh pihak sekolah, atau pihak orang tua sebagai penanggung jawab utama persoalan Kesehatan putra-putrinya. Hal ini perlu adanya kerjasama, agar persoalan berat menjadi ringan dan yang rumit menjadi mudah. Kendala utama adalah siswa tidak bisa lagi belajar secara normal tatap muka (luring) seperti biasa, tapi harus melakukan kegiatan secara daring.

Persoalan yang dihadapi dengan belajar daring adalah sejauhmana ketersediaan perangkat IT yang dimiliki oleh guru dan siswa. Seperti yang kita ketahui, bahwa tidak semua guru PNS dapat memenuhi kebutuhan mengajarnya. mereka kan juga punya tanggungan keluarga. banyak pengeluaran yang harus diatasi, mulai dari kebutuhan pribadi, rumah tangga, dan anak sekolah. belum lagi PNS tersebut adalah seorang Ibu rumah tangga yang memiliki suami yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tentu hal ini semakin menyulitkan mereka untuk memenuhi perangkat pembelajaran Daring. Apalagi guru-guru tersebut belum mendapatkan sertifikasi.Jangankan membeli Labtob, Nootbook, Android saja sulit.

Ini baru bicara tentang finansialnya. Belum lagi menyangkut sejauhmana keinginan sang-guru dalam memenuhi tanggung jawab moralnya sebagai seorang pemimpin, pendidik, pembimbing, dan pengajar.

Sebagai pengajar : sebagai pengajar (intruksional), guru bertugas merencanakan progam pengajaran, melaksanakan program yang telah disusun dan melaksanakan penilaian setelah program itu dilaksanakan

Sebagai pendidik : sebagai pendidik (educator) guru bertugas mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan yang kepribadiannya sempurna.

Sebagai pembimbing : guru pembimbing yaitu membimbing siswa agar dapat menentukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal mereka, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas tugas perkembangan mereka, sehingga dengan keterpacaian tersebut ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan setiap orang tua dan masyarakat.

Sebagai pemimpin ; sebagai pemimpin, guru bertugas memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didk dan masyarakat, yang terkait, menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi atas program yang dilakukan.

Disamping itu guru memiliki peran diantaranya sebagai ; evaluator, kulminator, insisiator, informator, insfirator, motivator, fasilitator, pengelola kelas, organisator, dan lain sebagainya.

Guru sebagai pengelola kelas : guru dalam peranannya sebagai pengelola kelas, hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta mengorganisasikan lingkungan sekolah. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah pada tujuan-tujuan pendidikan. Dalam pembelajaran daring ini, bagaimana mungkin guru dapat melakukan Tindakan mengelola kelas. seperti yang kita pahami bahwa mendesain ruang kelas sedemikian rupa dapat menimbulkan semangat belajar yang tinggi. di sini siswa juga berperan aktif untuk menentukan keindahan, kerapian, sehingga tercipta suasana yang nyaman dalam belajar.

Sebagai organisator, guru dapat menciptakan proses edukatif. Sebagai motivator, guru dapat mendorong peserta didik untuk semangat dan aktif dalam belajar. Sebagai insfirator, guru guru dapat menginsfirasi peserta didik untuk kemajuan belajar. Sebagai informator, guru dapat memberikan informasi seputar dunia Pendidikan. Sebagai inisiator, guru dapat mencetuskan ide-ide untuk kemajuan Pendidikan dan pengajaran. Sebagai kulminator, guru mengarahkan proses belajar secara bertahap, agar peserta didik dapat mengetahui sejauhmana tingkat kemajuan belajarnya telah dicapai. semua proses tersebut dapat dilakukan melalui daring.

Bahkan dari belajar daring ini, sebagai evaluator pun guru dapat memberikan umpanbalik dari proses belajar mengajar selama kurun waktu tertentu. untuk memberikan penilaian terhadap pengetahuan dan keterampilan, masih bisa dilakukan walau terbatas. Namun untuk memberikan penilaian terhadsap sikap peserta didik, ini suatu hal yang sangat sulit untuk dinilai. Karena bicara sikap adalah memberikan penilaian terhadap 18 karakter peserta didik secara totalitas. Karakter tersebut antara lain; religious, aktif, kreatif, inovatif, sosial, kerjasama dan lain sebagainya, Melihat kenyataan ini, dapat dipastikan bahwa hasil yang dicapai oleh guru dan peserta didik tidak akan maksimal.

Kendala yang dialami siswa dalam pembelajaran daring antara lain :

  1. Lokasi rumah tidak mendapat akses internet dengan baik, termasuk quota internet yang terbatas. Untuk mengatasi persoalan ini, tak jarang peserta didik menggunakan jasa WIFI di tempat umum seperti di warung kopi. Sebagai orang tua dituntut untuk memberikan biaya dan pengawasan ekstra terhadap putra-putrinya.
  2. Pembelajaran dominan belum interaktif.
  3. Sebagian besar tugas diberikan secara on-line dan menumpuk.
  4. Penyerapan materi pelajaran sangat minim dan ini akan menyulitkan peserta didik untuk berkompetisi di perguruan tinggi.

Semua persoalan di atas menjadi tanggung jawab bersama yaitu sekolah, orang tua dan masyarakat. Inilah yang namanya Trilogi Pendidikan. Pihak menajemen sekolah dan dewan guru, harus dapat mendesain program belajar daring, sehingga dapat memberikan pelayanan yang maksimal dalam proses belajar-mengajar. Dalam hal ini guru dituntut untuk menyiapkan perengkat pembelajaran yang vatiatif, sehingga akan memberikan semangat belajar yang tinggi. Selain itu pserta didik semakin focus dalam mengikuti pembelajaran daring. Selama ini Sebagian guru memberikan tugas monoton, sehingga menimbulkan kebosanan dan keengganan untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

Sebagai orang tua, selain memberikan segala kebutuhan yang menunjang pendidikan putra-putrinya, juga harus berperan aktif dalam pengawasan terutama ketika akan menyelasaikan tugas guru di luar rumah. Hal ini penting, karena anak yang memiliki sikaplaku yang baik akan mengerjakan tugasnya dengan penuh rasa tanggungjawab. Sementara anak yang sedikt bermasalah, tentu hasil dalam mengerjakan tugas tidak akan maksimal. Selain itu tetap memperhatikan prokes untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi.

Sebagai masyarakat, harus lebih inten dalam menyikapi segala perilaku remaja yang ada di seputar wilayahnya. Sikap sosial kemasyarakatan yang telah diwariskan nenek moyang kita dahulu menjadi titik tolak dalam menciptakan generasi muda Aceh yang handal. Apalagi dalam situasi pandemic ini. Sikap kepedulian tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. Sikap yang sering ditampilkan para remaja, kurangnya kesadaran menyikapi sutuasi dewasa ini.tentang penggunaan masker yang dianggap hanya sebagai hiasan belaka. Sesama mereka kadang enggan untuk menegur temannya. Melalui peran serta masyarakat terutama orang-orang dewasa, tentu akan lebih dipedulikan.

Menyinggung masyarakat tentu Satgas bagian daripada itu. Satu diantara tanggungjawab dari Satgas adalah mengkomunikasikan pengetatan/ pelonggaran protocol Kesehatan ke orang tua,murid,guru dan para vendor di sekolah. Artinya di sini adalah tugas Satgas tidak hanya dilakukan di sekolah, namun akan lebih berhasilguna jika pelaksaannya dilakukan secara efektif.

Oleh karena itu, meskipun keadaan proses pembelajaran sekarang (daring), jauh berbeda dengan proses pembelajaran secara tatap muka (luring), menuntut semangat dan tanggung jawab sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kerjasama ketiga elemen tersebut, sangat mempengaruhi proses belajar dalam situasi pandemic ini. Sinergisitas yang optimal akan menciptakan merdeka belajar. Dari proses merdeka belajar, semua berharap, hasil yang dicapai siswa dapat ditandai dengan perubahan yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Jika suatu hal yang ingin diketahui sudah tercapai maka itulah yang disebut hasil belajar.


Tags: menulis felsi

About The Author

Dika Adi Saputra

SMA Negeri Modal Bangsa Arun

Comments

Comment has been disabled.